Abu
Husna Amalia, Lc.
Pembukaan
Bismillah
wal Hamdulillah. Sesungguhnya
belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan tentang apa yang
sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai hari Valentine. Dalam buku
‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?” (Rizki
Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara
detil. Inilah salinannya:
Ada banyak
versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling populer memang
kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II
yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa
versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita
menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno,
sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.
Menurut
pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal
sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode
antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan
Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma
kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada
nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini
digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit
kambing.
Di zaman
Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual
penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing
kepada sang dewa. Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di
jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan
menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk
disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing
tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat
dibanggakan di Roma kala itu.
Perayaan
Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang
berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari
mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk
dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.
Siapa Santo Valentinus
Pada hari
ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak.
Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya
ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang
dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.
Keesokan
harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia
dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut
gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa
mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka
mereka akan bertambah cantik dan subur.
Ketika
agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme (berhala)
ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti
nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya
adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.
Agar lebih
mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan
upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint
Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada
tanggal 14 Februari.
Tentang
siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah disinggung di muka,
para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurangnya ada tiga nama
Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan
sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun, ini pun tidak pernah ada
penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan
kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber
mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut
versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan
memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan
berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah
tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine
lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi
kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih
tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu
kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan
kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine dan ia secara
diam-diam pula menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap.
Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi
dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M.
Tradisi Kirim Kartu
Selain
itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung
dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of Orleans dipenjara di
Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine tanggal 14
Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis. Oleh Geoffrey
Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan musim kawin
burung-burung dalam puisinya.
Ucapan Be My Valentine
Lantas,
bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang masih saja
terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya
masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa
Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat,
dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan
kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.
Disadari
atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau
pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu sesungguhnya
kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan,
istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan hal itu
sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.
Adapun
Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang
yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari.
Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan
bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan
incest dengan anak kandungnya itu!
Silang sengketa siapa sesungguhnya
Santo Valentine sendiri juga terjadi di dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut
gereja Katolik seperti yang ditulis dalam The Catholic Encyclopedia (1908),
nama Santo Valentinus paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang
suci) yang berbeda, yakni: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna
(modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara
ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.
Bahkan
Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang
diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau demikian Gelasius II
tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan
Santo Valentinus.
Ada yang
mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi hari
raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari. Sisa-sisa kerangka
yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma,
diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh
dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church
di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus
Gregorius XVI pada 1836.
Banyak
wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana
peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi
di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan
kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya
ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian
dari sebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang
asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan mitos
atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih dirayakan
oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.
Kesimpulan
Jelas
sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda zaman Romawi
Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja
Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya Santo Valentine yang
dianggap menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini
pernah diperingati secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di
Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok
gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya. (Bersambung
ke tulisan kedua)
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar