RUQYAH SYAR'IYAH        CIRI TERKENA JIN        BEDA JIN,SETAN,IBLIS        KESAKSIAN        UMROH-HAJI        RUQYAH        DUKUN BERBAJU KYAI

Sabtu, 06 Oktober 2012

9 Kiat jadi Peruqyah - Majalah Ghoib Ruqyah

9 Kiat jadi Peruqyah
Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.

Muqoddimah
Alhamdulillah, kini pengobatan dengan metode Ruqyah Syar’iyyah sudah mulai dikenal banyak orang, sehingga metode pengobatan warisan Rasulullah ini makin popular di masyarakat. Bahkan ada beberapa oknum yang memanfaatkan popularitas ruqyah dengan buka praktik pengobatan ruqyah versi dukun, alias ruqyah gadungan. Akhirnya banyak kaum muslimin yang tertipu, dikira terapi ruqyah syar’iyah ternyata ruqyah syirkiyah (syirik). Maka waspadalah!
Ruqyah menurut bahasa adalah bacaan, mantra atau jampi-jampi. Sedangkan menurut syari’at Islam Ruqyah Syar’iyyah adalah, "Do'a yang dibaca untuk memohon kesembuhan yang terdiri dari ayat-ayat al-Qur'an dan hadits Rasulullah yang shahih." (Kitab Dha'ifu Sunanit Tirmidzi: 231, karya Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah).

Ciri ruqyah yang syar’iyah
Syekh Ibnu Hajar al-'Asqalani berkata: "Para ulama' telah sepakat (ijma') bahwa ruqyah dibolehkan apabila memenuhi tiga kriteria". (Fathul Bari: 10/ 206). Kesepakatan (konsensus) tersebut disampaikan oleh beberapa ulama' besar dan terkenal. Di antara mereka adalah Imam as-Suyuthi (Penulis kitab Tafsir ad-Durrul Mantsur), Imam Nawawi (Pensyarah Kitab Shahih Muslim), Imam as-Syaukani (Penulis Kitab Hadits Nailul Authar), Syekh Sulaiman bin Abdullah (Penulis Kitab Akidah Taisirul 'Azizil Hamid), Syekh Ibnu Taimiyyah (Pemilik Kitab Majmu'ul Fatawa), dan begitu juga Syekh Nashiruddin al-Albani (Pakar Hadits), serta masih banyak sederetan ulama' terkenal lainnya. Ciri ruqyah yang syar’iyah (sesuai syari’at Islam) adalah:

Pertama, Bacaannya terdiri dari kalam Allah (al-Qur'an) atau dengan Asma' dan Sifat-Nya. Imam Nawawi juga telah berkata: "Ruqyah dengan ayat-ayat al-Qur'an dan dengan do'a-do'a yang telah diajarkan Rasulullah adalah suatu hal yang tidak terlarang. Bahkan itu adalah perbuatan yang disunnahkan. Telah dikabarkan para ulama' bahwa mereka telah bersepakat (ijma') bahwa ruqyah dibolehkan apabila bacaannya terdiri dari ayat-ayat al-Qur'an atau do'a-do'a yang diajarkan Rasulullah." (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 14/ 341).
Kedua, Bacaannya terdiri dari Bahasa Arab. Para ulama' sepakat bahwa bacaan ruqyah harus terdiri dari bahasa Arab, sebagai bahasa al-Qur'an dan as-Sunnah. Dan mereka berbeda pendapat jika bacaan ruqyah itu bukan bahasa Arab. Imam Nawawi menukil perkataan Syekh al-Maziri rahimahumalloh: "Semua ruqyah itu boleh apabila bacaannya terdiri dari kalam Allah atau sunnah Rasul. Dan ruqyah itu terlarang apabila terdiri dari bahasa non Arab atau dengan bahasa yang tidak dipahami maknanya, karena dikhawatirkan ada kekufuran di dalamnya." (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 13/ 341).
Seorang ahli Hadits yang bernama Syekh Hafizh bin Ahmad Hakami berkata: "Ruqyah yang terlarang adalah ruqyah yang tidak terdiri dari al-Qur'an atau as-Sunnah dan tidak berbahasa Arab. Ruqyah seperti itu termasuk perbuatan syetan, dan termasuk bacaan untuk mendekatkan diri kepada syetan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para dukun dan tukang sihir. Bacaan seperti itu juga banyak dijumpai dalam kitab-kitab mantra dan rajah seperti Kitab Syamsul Ma'arif dan Syumusul Anwar dan lainnya. Hal itu merupakan upaya musuh Islam untuk merusak Islam, padahal sesungguhnya Islam bersih dari hal semacam itu." (Kitab A'lamus Sunnah al-Mansyurah: 155).
Ketiga, Hendaklah diyakini bahwa bacaan ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, tapi berpengaruh karena kuasa dan izin Allah. Allah mengabadikan keyakinan Nabi Ibrahim dalam al-Qur'an, "Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku." (QS. asy-Sy'ara': 80). Di ayat lain, Allah berfirman, "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri…" (QS. al-An'am: 17).
DR. Fahd bin Dhuwaiyyan (seorang ustadz akidah di Jami'ah Islamiyyah, Madinah al-Munawwarah) berkata, "Sudah jelas, bahwa suatu hal yang sangat penting sekali untuk memahami tiga syarat di atas, karena itulah syarat yang benar. Apabila salah satu dari tiga syarat tersebut di atas tidak ada, maka kita harus berhati-hati dan waspada. Karena banyak tempat praktik ruqyah yang didatangi oleh banyak orang di berbagai belahan dunia, tapi tiga kriteria di atas tidak terpenuhi dalam praktik mereka. Padahal praktik seperti itu harus dijauhi oleh seorang muslim. Yakinlah terhadap firman Allah, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. at-Thalaq: 2).

Legalitas Ruqyah yang Syar’iyah
Allah swt. berfirman, “Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (QS. al-Isra’: 82).
Aisyah ra., istri Rasulullah saw. berkata, “Apabila Rasulullah merasa sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan membaca, “Dengan nama Allah yang menciptakanmu, dan Dia menyembuhkanmu dari segala macam penyakit, dan dari kejahatan orang yang dengki saat ia dengki, dan dari kejahatan setiap orang yang bermata jahat.” (HR. Muslim).
Dari Ummu Salamah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. pernah melihat seorang anak perempuan yang kulit wajahnya berubah menjadi kehitaman. Maka Rasulullah bersabda, ‘Lakukanlah terapi ruqyah untuknya, karena ia terkena penyakit akibat pandangan mata (jahat).” (HR. Bukhari, no. 5298 dan Muslim, no. 4074).

Syarat Peruqyah
Pertama, Beraqidah Islam secara benar dan merealisasikannya dalam ucapan dan perbuatan. Ini adalah modal utama seorang peruqyah. Bagaimana bisa meruqyah dengan benar jika dia sendiri melakukan kesyirikan baik yang dia sengaja ataupun tidak disengaja.
Kedua, Meyakini bahwa ayat-ayat dan do’a yang dibaca punya pengaruh jika dibacakan kepada jin dengan izin Allah. Keyakinan ini berhubungan dengan keimanan. Ketika tidak percaya bahwa ayat Allah mempunyai kekuatan mengalahkan jin, maka artinya ada cacat pada keimanannya, sehingga ruqyah yang dilakukan tidak bermanfaat untuk dirinya atau orang lain.
Ketiga, Memahami tentang dunia jin. Seorang peruqyah harus mempunyai pengetahuan cukup yang berlandaskan dalil yang benar tentang dunia jin (syetan). Selayaknya seorang yang menyiapkan kekuatan dirinya untuk berjihad, maka dia juga harus mengetahui tentang siapa lawan yang akan dihadapinya.
Keempat, Mengetahui pintu-pintu masuknya syetan pada diri manusia. Supaya bisa melakukan terapi secara efektif dan bisa mengarahkan pasien untuk membentengi diri dari serangan dan gangguan jin (syetan) saat menjalani terapi atau pasca kesembuhannya. Dengan begitu terapi akan berlangsung efektif.
Kelima, Menjahuhi hal-hal yang diharamkan. Syarat ini sebenarnya adalah syarat bagi setiap muslim. Pada diri peruqyah, hal ini harus sangat diperhatikan. Karena dia berhadapan dengan musuh yang mendorong kepada perbuatan maksiat. Sehingga, ketika peruqyahnya masih suka dengan yang haram dan kemaksiatan, maka peruqyah itu telah menjadi teman syetan, sehingga ruqyah yang dilakukan tidak memiliki kekuatan.
Keenam, Selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berbagai macam ibadah yang telah dicontohkan Rasulullah. Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah, maka dia akan jauh dari gangguan syetan, dan ia diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapi dan mengalahkan musuh-musuh-Nya termasuk jin pengganggu yang terlaknat.
Ketujuh, Merutinkan wirid dan doa penjagaan diri. Seorang peruqyah harus rajin membaca wirid dan doa penjagaan diri yang diajarkan oleh Rasulullah. Karena musuh yang dihadapinya tidak nampak dan siap untuk membalas kapan saja dia lengah dari dzikir dan berlindung kepada Allah. Untuk itulah lebih diutamakan mereka yang telah menikah. Bukan berarti yang belum menikah tidak boleh. Hanya saja yang telah menikah, berarti dia telah melengkapi agamanya dan lebih bisa mengendalikan syahwatnya dari yang diharamkan.
Kedelapan, Mengetahui cara meruqyah yang benar sesuai dengan tuntunan syariat (yang diajarkan Rasulullah). Dengan cara membacanya dan lebih baik jika dihafal bacaannya. Kemudian mempelajari cara dan teknik yang dituntunkan oleh Rasulullah, para shahabat dan para ulama salaf terdahulu. Sehingga ia punya panduan yang benar dalam meruqyah.
Kesembilan, Mengikhlaskan niat dalam meruqyah. Jika kelak telah mulai meruqyah, maka menjaga niat dari penyimpangan adalah suatu keharusan. Karena terkadang fitnah dunia, wanita, kesombongan bisa saja hinggap pada diri peruqyah saat berpraktik.

Penutup
Oleh sebab itu, mulai sekarang pastikan bahwa ruqyah yang Anda pakai adalah ruqyah Syar'iyyah. Dan apabila Anda memakai jasa ruqyah dari orang lain, pastikan bahwa ruqyahnya adalah ruqyah yang syar'iyyah, bukan yang syirkiyyah. Karena Rasulullah telah bersabda, "Tidak apa-apa dengan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan." (HR. Muslim, Abu Daud dan al-Hakim).
Jika Anda ingin mengetahui praktik ruqyah yang syar’iyyah, atau ingin membuktikan manfaat dari terapi model ini, silakan mengunjungi tempat praktik kami di Klinik Ghoib (021- 7037 4645). Sampai saat ini kami berusaha untuk mensosialisasikan cara pengobatan Rasulullah yang satu ini, meskipun di luaran sana banyak orang yang menyalahgunakan praktik ruqyah, bahkan sengaja membungkusnya dengan praktik perdukunan yang sarat kesyirikan, ruqyah syirkiyah dilebeli dengan ruqyah syar’iyah. Hati-hati, jangan sampai Anda tertipu. Wallahu A’lam.



Tidak ada komentar:

Silahkan Ketik Judul Majalah Ghoib di Bawah ini

Memuat...