RUQYAH SYAR'IYAH        CIRI TERKENA JIN        BEDA JIN,SETAN,IBLIS        KESAKSIAN        UMROH-HAJI        RUQYAH        DUKUN BERBAJU KYAI

Senin, 28 Juli 2008

Kantor Pusat Majalah Al Iman bil Ghoib dan Klinik Ghoib

Klinik Ghoib
Dengan Metode
Ruqyah Syar'iyyah dan Bekam
Kantor: Gedung KOJALIA
Jl. Gunung Sahari 1 No.42 Senen - Jakarta Pusat . Tlp:021-4288 7942, 021- 7037 4645
SMS: 0813 8185 5656 0815 11311 554
Dengan Membaca kita bertambah ilmu pengetahuan Jauhilah kesyirikan

Sabtu, 05 Juli 2008

Mereka yang Telah Membuktikan

Pengobatan dengan menggunakan garam sebagai bagian dari obat telah lama dipraktikkan saudara kita yang ada di negeri Jiran, Malaysia. Yaitu dengan cara merendam kaki orang yang mengalami gangguan sakit ke dalam air dingin yang dilarutkan garam di dalamnya. Pengobatan ini ternyata mendapat respon yang sangat positif oleh masyarakat yang tinggal di negeri menara kembar, Petronas.

Di antara therapis yang menggeluti pengobatan rendam garam ini adalah Ustadz Ikhwanul Mujahidin, Lc. Seorang ustadz yang telah merintis praktik ruqyah syar’iyyah cabang Palembang. Semenjak dia berkenalan denan metode pengobatan rendam garam yang telah berkembang di negeri jiran, dia langsung tertarik untuk memadukannya dengan pengobatan ruqyah syar’iyyah yang telah digelutinya. Dan subhanalloh, luar biasa. Dengan izin Allah, telah banyak orang yang mengalami kesembuhan dari penyakit yang selama ini mereka derita.

Fenomena itu mengingatkan sang ustadz akan firman Allah, “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191).

Drs. Wijaya MSi, asal Palembang. “Keluhan yang selama ini saya rasakan akibat kecelakaan yang pernah menimpa diri saya. Kecelakaan itu menyebabkan tulang kaki saya patah, jari-jarinya nyaris tidak bisa digerakkan sama sekali.” Itulah tutur seorang sosiolog yang aktif ngajar di beberapa universitas di Palembang.

Di negara Malaysia ia bertemu dengan Ustadz Ikhwanul Mujahahidin. Lalu diperkenalkan kepadanya terapi rendam garam Himalaya kemasan Auralife Word Wide. Mulanya sang dosen ragu akan khasiat garam terhadap keluahan sakitnya. Tetapi setelah mencoba sekali rendam, ia merasakan suatu ‘keajaiban’. Sehabis terapi itu, ia diajak Ustadz Ikhwanul Mujahidin jalan-jalan ke KLCC naik Komuter (Kereta Api Listrik), dan menaiki tangga sera menuruninya. Anehnya, ia tidak lagi merasakan kesakitan di kakinya atau nyeri sebagaimana yang selama ini ia rasakan.

Bahkan setelah ia menjalani dua sampai tiga kali terapi rendam kaki dengan ramuan garam pegunungan ini, jari-jari kakinya bisa digerakkan kembali, ia merasa kesehatan kakinya pulih seperti sedia kala alias normal kembali, subhanalloh wal hamdulillah.

Lain lagi dengan kesaksian yang disampaikan oleh seorang wanita asal OKU, Sumatera Selatan. Ia pernah menderita sakit yang sangat memilukan sekaligus membingungkan. Ia mengaku pernah terkena gangguan jin yang disebut dengan santet atau teluh. Sakit yang luar biasa biasanya ia mulai rasakan saat menjelang waktu Maghrib tiba. Ia merasa sakit yang sangat pilu di sekujur tubuhnya. Bahkan terkadang ia melihat dengan jelas bahwa di tangannya ada sayatansayatan pisau dan mengluarkan aliran darah segar yang cukup banyak.

Untuk mencari kesembuhan dari sakitnya itu, ia telah berobat secara medis dan mistis. Namun apa yang ia lakukan malah membuat bingung. Karena berbagai macam pengobatan yang ia jalani belum juga menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik. Sudah banyak dana yang terkuras, dan banyak tenaga yang terperas.

“Akhirnya, pada suatu hari saya diajak oleh saudara berkunjung ke rumah Ustadz Ikhwan, Lc. untuk menjalani terapi ruqyah syar’iyyah. Saat terapi dimulai, ustadz mempersilahkan saya untuk duduk dikursi, dan kaki saya disuruh memasukkan ke baskom besar yang berisi air yang bercampur es batu dan garam.

Begitu kaki saya telah terendam, air yang sangat dingin mulai kurasakan. Lalu saya mendengar ustadz mulai membaca beberapa ayat al-Qur’an (ayat-ayat ruqyah). Tak selang berapa lamu saya merasakan sakit yang sangat di bagian kaki, dan saya pun berteriak-teriak secara spontan dan tak terkendalikan. Kemudian perut saya terasa mual-mual, lalu muntah-muntah. Setelah itu, badan saya terasa ringan, kepala jadi enteng dan pikiran jadi tenang. Subhanalloh wal hamdulullah.”

“Setelah menjalani terapi ruqyah syar’iyyah yang dipadu dengan rendam ramuan garam saya merasa 100 % menjadi diri saya kembali. Alhamdulillah, tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah yang telah memberi saya kesembuhan dari penyakit yang selama ini saya rasakan. Saya juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada ustadz Ikhwan yang telah sudi menerapi dan mengobati diri saya. Semoga Allah selalu melindungi saya dari gangguan jin (santet), agar tidak lagi merasakan sakit yang membuat saya sekeluarga bingung harus bagaimana.”

Kesaksian berikutnya berasal dari Tuan Abdul Aziz Satar asal Malaysia. Kakek yang sudah berumur 80 tahun ini mengalami keluhan sebagaimana lazimnya manusia lanjut usia (manula) pada umumnya. Badan mulai lemah dan gampang capek. Tidak mampu lagi berjalan agak jauh. Tidak sanggup lagi bila harus sering naik-turun tangga. Sebentar saja duduk bersia, kakinya akan terasa sulit digerakkan.

Mulanya ia mengetahui terapi rendam garam kristal pegunungan Himalaya ini dari salah satu stasiun TV yang ada di Malaysia. Setelah menyimak dan memperhatikan tayangan tersebut, ia tertarik untuk mencoba terapi rendam kaki dengan ramuan garam ala Auralife Word Wide. Lalu suatu hati ia mendatangi tempat praktik pengobatan tersebut dan mencobanya.

“Subhanalloh, luar biasa. Saya merasakan perubahan yang cukup signifikan dalam diri saya. Setelah menjalani terpi pertama, saya merasa tubuh saya jadi ringan, tenaga saya seakan muda lagi. Sekaran saya bisa berjalan keliling komplek rumah sampai jauh. Saya juga kuat kembali untuk naik-turun tangga. Memang saya sudah mendengar khasiat aram bagi tubuh dari nenek saya. Tapi saya tidak mengira kalau hasilnya sedahsyat ini. Mungkin karena rendaman garam di sini telah dipadukan dengan ruqyah syar’iyyah yang berisi do’a-do’a kesembuhan, sehingga hasilnya luar biasa. Alhamdulillah, Allah telah memulihkan tenaa saya kembali.” Begitulah penuturan Tuan Aziz Satar sebagaimana yang telah diabadikan dalam bentuk VCD.

Testimoni selanjutnya disampaikan oleh Bapak Ami, seorang pegawai Pertamina di Indramayu Jawa Barat. “Saya sudah lama mempunyai keluhan di bagian belakang tubuh saya, tepatnya di daerah punggung. Setelah menjalani pemeriksaan di beberapa rumah sakit, beberapa dokter menyarankan saya untuk menjalani operasi tulang belakang, karena saya divonis telah mengalami penyempitan tulang belakang.

Sampai suatu hari, kakak saya yang tinggal di Palembang menyarankan saya untuk datang ke rumahnya dan menjalani terapi rendam ramuan garam pegunungan, yaitu garam gunung Himalaya. Sesampai di tempat praktik pengobatan tersebut, saya diperiksa dengan metode Iridiologi, lalu dilakukan terapi Chiropraksi. Dan selanjutnya dilakukan terapi ruqyah syar’iyyah.

Terapi yang terakhir yang harus saya jalani adalah rendaman kaki dengan ramuan garam gunung Himalaya selama 30 menit. Subhanalloh, setelah menjalani rangkaian terapi terpadu itu, saya menalami banyak perubahan. Drastis dan fantastis. Tangan saya yang tadinya susah untuk digerakkan, menjadi ringan dan bisa digerakkan. Dan saya badan juga jadi agak kebal dengan angin, padahal sebelumnya saya gampang menderita masuk angin.

Alhamdulillah, bagian belakang saya sudah terasa normal dan sehat kembali. Akhirnya, sampai sekarang saya rajin mensosialisasikan terapi yang pernah saya jalani itu ke teman-teman kerja.” Itulah akhir cerita pengalaman dari Bapak Ami tentang terapi rendam garam Himalaya yang dipadu dengan ruqyah syar’iyyah.

Dan masih banyak lagi orangorang yang telah merasakan kebesaran Allah melalui rangkaian ayat-ayat al-Qur’an dan sumber daya alam yang telah Dia ciptakan dan Dia sediakan untuk kepentingan manusia. Semoga beberapa hasil testimoni di atas bisa menambah pengetahuan kita dan menjadi pencerah pikiran kita agar mau kembali kepada konsep Ilahi dan yang Alami dalam mencari kesembuhan. Karena metode itu terbukti paling aman. Aman, karena tidak mengandung kesyirikan yang bisa merusak aqidah Islam yang terpatri dalam diri kita. Aman karena tidak menimbulkan efek samping atau dampak buruk yang berbahaya bagi eksistensi tubuh kita yang merupakan amnah Allah untuk kita jaga dan kita syukuri.

Semoga informasi ini bermanfaat. Dan bagi yan memerlukan, silakan membuktikan sendiri. Semoga Allah senantiasa bersama kita untuk menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian di dunia ini, dan semoga pertolongan-Nya selalu menghampiri kita sekeluarga.

Terjerat ilmu pelet, karena sakit hati

Sewaktu SMA, aku terpikat dengan seorang wanita. Meilani, namanya. Ia biasa dipanggil Lani. Kulitnya putih, dengan hidung yang mancung. Kecantikannya memang menebar pesona. Kemana kakinya melangkah, ia selalu menjadi sorotan. Tak ubahnya magnet, Meilani menjadi primadona di SMA. Bukan hanya kecantikannya yang menonjol, tapi juga kecerdasannya.

Kuakui, aku tidaklah tampan-tampan amat. Perawakanku juga tidak terlalu atletis. Seperti kebanyakan orang Indonesia, warna kulitku sawo matang. Artinya, bila disandingkan dengan Meilani, diriku bukanlah seperti gambaran Arjuna dalam kisah pewayangan.

Tapi urusan hati tidaklah selalu matematis. Seorang wanita yang cantik bak bidadari, tidak semuanya bersanding dengan pemuda yang tampan. Banyak juga yang bersuamikan lelaki yang biasa saja secara fisik. Tapi mereka menjadi pasangan yang harmonis. Realita itulah yang memupuk keberanianku untuk menyatakan cinta.

Pucuk dicinta ulam tiba. Pendekatan yang kulakukan menuai hasilnya. Hubunganku dengan Meilani semakin akrab, bila ada kesempatan, aku mengajaknya jalan-jalan sekadar menikmati indahnya suasana sore.

Meilani mulai menceritakan pacarnya yang mengajak hubungan intim. Tapi dia tidak mau. Pacarnya hanya ingin memanfaatkan kekayaan dan kecantikannya. Ia mengatakan, ingin mencari seorang pemuda yang tulus mencintainya.

Kukatakan, bila aku tulus mencintainya. “Kalau kamu memang tulus mencintaiku, aku akan menerimamu apa adanya,” kataku. Meilani menatap mataku dengan lembut. Ia ingin menelusuri ketulusan cintaku. Sejak itu hubungan kami makin akrab. Hingga suatu ketika ia mencampakkan diriku. Ia kembali berpindah hati kepada pemuda yang lebih tampan dariku.

Aku kecewa. Baru seumur jagung menyatakan cinta, tapi kini sudah berpaling ke lelaki lain. Bukannya aku melarangnya berteman dengan orang lain. Tapi yang kulihat, hubungannya dengan pemuda yang belum kukenal namanya itu bukan sekadar berteman. Informasi dari teman-temanku juga mengatakan hal yang sama. Ya, mereka telah berjalan lebih jauh. Mereka telah menjalin kasih.

Menjelang Maghrib, aku mendatangi rumahnya yang sepi. “Kamu itu gimana sih. Katanya kemarin, kamu suka sama saya. Sekarang kamu dapat dia, kamu suka sama dia. Sebenarnya mana sih yang kamu mau?”

Jawaban Meilani sungguh di luar dugaan. Kata-katanya sangat menyakitkan. “Kamu itu jelek. Pendek. Sebenarnya kamu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Kamu itu sebagai pelampiasan kesepian saja,” katanya dengan nada sombong.

“Apa?” saya tidak percaya bila Meilani mengucapkan kalimat itu.

“Ya, saya sungguh benci kamu,” katanya dengan mata terbelalak. Ia benar-benar menampakkan kebenciannya.

“Kamu itu maksudnya apa. Saya sudah berkorban sama kamu. Waktu saya, uang saya. Karena belain kamu, saya sampai bertengkar dengan orangtua.” Aku ingin menunjukkan bahwa demi cintaku, aku sampai berani melawan orang tua. Tapi semua itu tetap tidak ada nilainya di mata Meilani.

“Saya tidak mau tahu. Pokoknya sekarang kita putus.”

Sejak itu aku sakit hati. Wanita yang selama ini kucintai itu ternyata berhati srigala. Ia mencampakkan diriku begitu saja. Baru kusadari bila selama ini, dia hanya berpura-pura mencintaiku. Hanya karena ingin melampiaskan kekesalannya, atau memanfaatkan uangku.

Hatiku hancur. Aku pulang dengan membawa kekesalan yang mendalam. Sampai di rumah, aku dimarahi ayah karena tidak mau menjemput kakak. Aku lebih memilih menemui Meilani. Sementara motor satu-satunya kupakai. Alhasil, kakak naik kendaraan umum setelah tiga jam menungguku yang tidak kunjung datang menjemputnya.

Hatiku yang masih gundah, karena baru putus cinta, tidak mau menerima kemarahan ayah. Dengan tanpa sadar kupukul dan kutendang ayah. Terang saja ayah marah. Dengan golok di tangan, ayah mengejarku. Aku berlari dan terus berlari, menghindar dari kejaran ayah yang masih marah. Tetangga yang melihat adegan itu hanya terbengong-bengong. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, karena itu urusan keluarga.

Cinta ditolak dukun bertindak.

Kekesalanku kepada Meilani sudah mencapai ubun-ubun, hingga usul seorang teman untuk menggunakan jasa dukun kuturuti begitu saja. Amir yang juga teman sekelasku memang terkenal sebagai play boy. Ia sering bergonta-ganti pacar. Rupanya, semua keberhasilannya dalam menggaet cewek tidak terlepas dari klenik yang dilakoninya.

Singkat kata, aku pun meminta saran dan nasehatnya, yang terbilang sukses memanfaatkan ilmu pelet. Ia menyodorkan selembar kertas bertuliskan arab. Katanya, itu isim Sulaiman.

“Coba kamu amalkan. Kamu tahu nggak namanya siapa? Umurnya berapa? Lahir tanggal berapa, bulan apa, … harinya apa?” Sederet pertanyaan itu kujawab dengan yakin, bahwa aku tahu jawabannya.

“Kalau kamu bisa mengambil rambutnya, ambil rambutnya. Sesudah itu kamu shalat dua rakaat. Kamu baca isim Sulaiman beberapa kali, lalu letakkan kertas bertuliskan nama Meilani di tengah al-Qur’an. Nanti, ketika al-Qur’an itu berputar, kertas itu juga akan berputar. Maka dia akan takluk sama kamu,” jelas Amir.

Malamnya, kupraktekkan apa yang diajarkan Amir, tapi tetap tidak berhasil. Esok malamnya, kuulang lagi, hasilnya tidak berbeda. Akhirnya aku diajak Amir ke neneknya. Dialah yang selama ini mengajari Amir ilmu pellet.

Amir sudah cerita perihal alasanku menemuinya. “Ambil air dalam baskom ke kamar!” kata nenek tanpa banyak bicara. Meski masih sedikit ragu-ragu, aku menuruti permintaannya. Kubawa air dalam baskom ke kamar dengan hati dag, dig, dug. Kemudian aku disuruh duduk bersila di dekat baskom.

“Kamu bayangkan wajah cewek itu! Katanya kemudian. “Kamu bayangkan bagian mana yang kamu senangi dari cewek itu. Hidungnya, matanya atau bibirnya,” nenek terus memberikan komando. Karena aku tulus mencintainya, aku membayangkan wajahnya.

Aku tidak lagi peduli apa yang dilakukan nenek di belakangku. Pikiranku terfokus untuk menghadirkan wajah Meilani ke dalam baskom. Wajah yang manis itu tergambar dengan jelas. Matanya, hidungnya, bibirnya, bulu matanya yang lentik… semuanya ada di dalam air.

Pasca ritual singkat itu, aku diberi air dalam botol aqua. “Taruh sebagian air ini di minuman cewek itu,” serunya kemudian.

Awalnya aku bingung, bagaimana cara memasukkan air tersebut ke minuman Meilani. Aku khawatir dia curiga. Aku masih terus mencari kesempatan yang tepat untuk memberikan air guna-guna. Kesempatan itu baru tiba setelah jam pelajaran olahraga. Nah, di sela-sela istirahat setelah olahraga, aku berpura-pura berbaik hati kepadanya. Aku pasang wajah yang seperti biasaya. Seolah-olah tidak ada masalah di antara kami. Kusodorkan segelas air aqua yang telah kusuntik dengan air guna-guna.

Tanpa curiga, Meilani meminumnya. Wajahnya sumringah. Nampak ia senang dengan pendekatanku. Kami pun ngobrol ke sana kemari diiringi canda tawa. Hasil dari guna-guna itu langsung ketahuan sore harinya. Meilani memintaku datang ke rumahnya. Di rumahnya yang sepi itu, Meilani menangis. Ia memintaku menerimanya kembali sebagai pacar. Padahal seminggu sebelumnya, ia menendangku dengan sombongnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Tanpa banyak pertimbangan, kuterima kata maafnya. Dan kami pun kembali menjalin asmara seperti dulu. Bedanya, bila dulu, aku yang tergila-gila kepadanya, sebaliknya, setelah minum air yang telah diguna-guna, Meilani yang tergila-gila kepadaku. Apapun permintaanku diturutinya tanpa banyak mengeluh. Kalau aku berniat tidak baik, tentu dengan mudah kurenggut kegadisannya.

Tapi aku tidak mau melakukannya. Aku mencintainya dengan tulus. Dan aku tidak mau menodai cintaku. Setahun lamanya, kami berpacaran. Setahun lamanya pula Meilani tidak pernah berpaling ke lelaki lain.

Semua itu terjadi karena secara rutin, aku selalu memperbarui peletku. Dua hari sekali aku menjalani ritual seperti biasa di rumah neneknya Amir. Sebuah perjalanan cinta yang mahal.

Diusiaku yang masih kelas tiga SMA itu, aku sering mengajak pacarku ke mall atau diskotik. Padahal, aku masih belum bekerja. Uang sekolah menjadi modal pacaran. Uang yang seharusnya kubayarkan ke sekolah, habis untuk pacaran. Berkali-kali ayah mendapat surat panggilan ke sekolah, tapi berkali-kali pula aku meminta tolong orang lain agar menggantikan peran ayah. Hingga akhir tahun, ayah baru tahu bahwa selama ini aku menunggak uang sekolah.

Hal itu terjadi ketika salah seorang guru menemui orang tuaku ketika aku tidak berada di rumah. Dari sana, ayah curiga bila uang sekolah itu kupergunakan untuk pacaran, atau pergi ke diskotik.

Dihantui sosok kakek berwajah hitam

Setelah perpisahan di SMA, nasib cintaku bergeser. Meilani yang kudapatkan melalui pelet itu kubiarkan pergi begitu saja. Tak ada hasrat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Cinta monyet itu berakhir dengan berakhirnya masa-masa SMA. Kubiarkan dia terbang sesuka hatinya. Ritual mingguan untuk memperbarui pelet telah kutinggalkan.

Selepas SMA, aku bersyukur langsung diterima kerja di salah satu pusat perbelanjaan. Tapi entah kenapa hatiku mulai dingin terhadap wanita. Aku tidak lagi tertarik untuk berpacaran, meski ada beberapa teman yang berusaha mendekatiku. Hingga akhirnya hatiku tergoda oleh kelembutan hati seorang pengunjung.

Ia masih berseragam putih abu-abu. Berjilbab dan anggun. Ketika datang ke toko, aku menawarinya sebuah gaun yang indah, tapi dengan lembutnya dia menolak.

“Saya tidak mau yang ini Bang. Saya maunya yang tertutup (menutup aurat),” elaknya dengan halus.

Dari sana hatiku mulai tergugah. “Kenapa?” tanyaku keheranan. “ Saya tidak boleh mengenakan itu. Itu haram,” kata gadis yang memperkenalkan dirinya bernama Anisa itu.

Obrolan di toko itu pun berlanjut ke pertemanan yang lebih akrab. Kuakui sejak berkenalan dengan Anisa, kecenderunganku untuk lebih dekat dengan agama terus meningkat. Aku mulai shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Dalam beberapa tahun yang lalu, agama seakan sudah menjadi bagian dari masa lalu. Jangankan shalat atau puasa, membaca al-Qur’an saja sudah tak mau.

Baru sehari, melaksanakan shalat, aku bermimpi didatangi sosok yang menyeramkan. Wajahnya hitam dengan bola mata memerah. Ia mengenakan sorban yang juga hitam. Sementara kedua tangannya menggenggam sesuatu, entah apa itu. Kedua tangannya menjulur, dan memelukku. Aku berusaha melepaskan diri, tapi ohh.. cengkeramannya begitu kuat. Sampai akhirnya aku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.

Bayangan kakek itu sering datang. Siang malam. Kadang di depan pintu lain kali sudah berada di sampingku tanpa kusadari kemunculannya. Aku berlari, tapi dia terus mengejarku. Sampai aku kelelahan. Ketika hal itu kusampaikan kepada seorang teman, ia menyarankanku mengikuti aliran beladiri tertentu. Katanya, ia bisa melawan gangguan dari makhluk halus.

Baru takbir, rasanya sudah panas. Berat. Kepala seperti mau pecah. Kepalaku seakan dipukul dengan benda keras. Tapi aku tetap bertahan. Meski rasa sakit terus mendera, aku berusaha untuk tabah menerimanya.

Kutemui Amir di rumahnya. Kuceritakan tentang sosok kakek yang sering menghantuiku. Tapi dengan entengnya Amir menjawab. “Kamu shalat kali?” tanyanya. Kukatakan, bila aku sudah kembali menjalankan shalat. “Nah, itu sebabnya kakek itu marah. Karena pengguna ilmu pelet jenis ini tidak boleh shalat,” katanya.

Menurut penjelasan Amir, sebenarnya kakek yang sering menghantuiku itu suruhan neneknya. “Itu gurunya nenek,” katanya. Aku disuruh menemui neneknya kembali bila tidak ingin terus dihantui kakek. Tapi aku enggan melakukannya. Aku sudah tidak mau berhubungan dengan ilmu pelet. Jujur, niatku hanya untuk membalas dendam. Tidak lebih. Bila dendam itu sudah terbalaskan, aku tidak mau lagi mengamalkannya.

Setahun menjadi gelandangan di Jakarta

Waktu terus berjalan. Setahun sudah aku bekerja di toko. Hingga akhirnya, kakak mengajakku ke Jakarta. “Kamu teruskan kuliah di Jakarta,” katanya. Ya, di zaman seperti sekarang, ijazah SMA tidak lagi banyak menolong. Kalau mau bekerja di kantoran, paling-paling hanya menjadi cleaning service. Apalagi tantangan di masa depan telah menunggu. Aku tidak ingin hanya menjadi orang pinggiran. Karena itu tawaran kakak kuterima dengan hati terbuka.

Selama kuliah, aku masih sering didatangi kakek itu. Di kampus, di rumah atau di mana saja. Ketika dosen sedang mengajar, seolah-olah muka kakek itu yang mengajar. Aku ngeri melihatnya. Hingga pelajaran kuliah tidak dapat kukuasai dengan baik. IP selalu dibawah dua.

Pada sisi lain, aku menjadi sosok yang dibenci di tengah keluarga. Entahlah, mengapa kata-kataku terkesan menyakitkan. Kakak yang membiayai kuliahku sering kucibir dengan kata-kata yang pedas. “Kuliah apaan ini, ngapain kuliah kayak gini. Nyesel saya kuliah,” ya kalimat yang semacam itu sering kali terucap tanpa kusadari. Aku tidak bermaksud melecehkan siapa pun, tapi entahlah mengapa semua itu terjadi.

Akibatnya pertengkaran dengan kakak yang susah payah membiayaiku tak terelakkan lagi. Sampai akhirnya aku diusir dari rumah. Kakak enggan membiyaiku. Terusir dari keluarga tidak membuatku menyesal dan memperbaiki diri. Sebaliknya, aku melampiaskan kekesalan itu dengan bergaul bersama preman di salah satu sudut kota Jakarta Timur.

Setahun lamanya, aku menggelandang. Sesekali tidur di bawah emperan toko atau numpang di rumah teman sesama preman. Untuk makan sehari-hari aku mengikuti kegiatan mereka. Terkadang ikut-ikutan malak, lain kali ikut menjadi debt kolektor. Minuman keras, diskotik, kembali menjadi bagian kehidupanku.

Aku tidak mempedulikan status sebagai mahasiswa. Tiap malam, kakek itu muncul. Kali ini dengan senyuman yang ramah. Tidak ada kemarahan. Karena aku tidak lagi menjalankan shalat lima waktu. Kehidupanku kembali kelam seperti dulu. Roda kembali berputar ke arah yang salah.

Hingga suatu senja, ketika aku sedang berjalan di kawasan Senen, Jakarta Pusat, aku mendengar gema suara adzan Maghrib. Waktu itu pas bulan Ramadhan. Mendengar gema adzan, aku menangis. Yang terbayang itu dosa dan penyesalan. Mengapa nasibku menjadi begini. Terusir dari keluarga dan hidup menggelandang, tanpa masa depan.

Aku bergegas ke masjid terdekat. Di sana, aku bermunajat dan menangis memohon ampunan-Nya. Malam itu, aku tidak lagi kembali ke teman-teman sesama preman. Aku lebih memilih untuk bersilaturrahmi ke rumah bibi, yang selama ini belum pernah kutemui.

Alhamdulillah, aku diterima dengan baik. Sejak itu, aku kembali berkumpul dengan keluarga. Aku ikut kakak tertua yang tinggal di Chandra Baru, Bekasi, Jawa Barat. Di bulan Ramadhan itu gangguan dari sosok kakek itu kembali kurasakan. Kepalaku seperti ditusuk paku, badanku terasa panas.

Sewaktu shalat Maghrib di Masjid Al-Huda, aku menangis. Mengapa gangguan itu kembali datang di saat aku mendekatkan diri kepada-Nya. Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini. Ya, Allah, bukalah jalan untukku dalam merengkuh ridha-Mu.

Dalam keadaan seperti itu, aku dihampiri Ustadz Bambang, yang menyarankanku agar shalat tahajud. Kuturuti sarannya, tapi gangguan itu masih datang. Akhirnya Ustadz Bambang menyarankan agar aku mengumpulkan beberapa teman untuk mengikuti ruqyah massal.

Dengan cepat, malam itu aku berhasil mengumpulkan puluhan remaja. Mereka pun antusias mengikuti ruqyah massal yang dilakukan oleh Ustadz Bambang selaku ketua Ghaib Ruqyah Syar’iyyah cabang Bekasi.

Setelah sekian lama dibacakan ayat-ayat al-Qur’an ternyata ada dua remaja yang bereaksi. Aku dan Fajar. Jin yang merasuk ke dalam diriku mengaku kepanasan dan minta agar ayat-ayat al-Qur’an itu tidak lagi dibacakan.

“Sudah. Sudah jangan dibacain lagi. Panaaas,” katanya. Tapi dibacakan terus. Jin itu teriak di telinga. Tapi terus dipaksa keluar. “Saya tidak mau keluar. Saya masih di sini.” Setelah sekian lama, akhirnya jin itu keluar melalui muntahan. Sejak itu secara berkala aku mengikuti terapi ruqyah di GRS cabang Bekasi.

Alhamdulillah, kakek itu tidak lagi datang menemuiku. Selain itu aku tidak lagi melihat penampakan-penampakan yang menakutkan. Hubungan dengan orang-orang terdekat pun semakin akrab. Aku berharap semoga tidak lagi ada gangguan yang pada akhirnya membuatku terusir dari keluarga. Karena tidak ada enaknya hidup dalam keterasingan di tengah keluarga.

Mengikat Tiang Ketika Angin Kencang

Angin adalah peristiwa alami, tapi penuh misteri. Keberadaannya (berhembus atau tidaknya) bukanlah sebuah kebetulan belaka. Melainkan sudah diatur oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Dahulu, pada masa Rasulullah Saw, ada seorang yang memaki angin. Lantas Rasulullah Saw menegurnya, "Janganlah kamu mencaci maki angin! Karena sesungguhnya ia itu diperintah. Dan barangsiapa melaknat sesuatu yang bukan pada tempatnya maka laknat itu akan kembali pada dirinya!"

Misteri tentang angin itupun melahirkan keyakinan-keyakinan (yang terkadang keluar dari kebenaran) tentangnya. Salah satunya adalah manakala terjadi angin kencang. Katanya kalau angin sedang berhembus kencang, maka kita harus mengikat empat tiang penyangga utama rumah kita itu dengan kain (jarik), biar nggak roboh tertempa hembusannya.

Maksudnya empat tiang penyangga utama adalah sebagaimana yang bisa kita dapati dari model rumah jawa (Joglo ataupun Dorogepak). Empat tiang ini biasanya berada di tengah, sebagai penyangga kuncupnya. Lalu muncul masalah, bagaimana kalau kebetulan rumah kita tidak memiliki tiang sebagaimana yang dimaksud? Apa yang harus kita ikat ketika ada angin kencang?

Lantas, bagaimana solusi imani bila terjadi angin kencang?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Suatu hari terjadi angin kencang di Makkah. Ketika itu Umar sedang berhaji.anginpun berhembus semakin kencang. Lalu Umar berkata kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya, "Apa yang sampai pada kalian (dari hadits Rasulullah) tentang angin?" aku menjawab, "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Angin itu dari hembusan ruh Allah, ia membawa rahmat dan adzab. Maka janganlah kalian mencacinya, dan mintalah pada Allah kebaikan darinya, dan berlindunglah pada-Nya dari keburukannya."

Adapun doa permohonan kebaikan dari angin dan perlindungan dari eburukannya dalah sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Saw jika angin berhembus kencang maka beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلك مِنْ خَيْر مَا أُمِرَتْ بِهِ ، وَأَعُوذ بِك مِنْ شَرّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan dari apa-apa yang dibawanya (angin), dan berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang dibawanya."

Sedangkan solusi imani lain yang diriwayatkan ibnu Abi Dunya dan ibnu Asakir adalah hadits dari Abu Darda' yang mengatakan, "Jika angin malam berhembus kencang, maka Nabi Saw segera menuju masjid sampai semuanya kembali tenang, dan jika terjadi peristiwa di langit seperti gerhana matahari ataupun rembulan, maka beliau segera melakukan shalat." (ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin as-Suyuti)

Angin. Terkadang berhembus sebagai rahmat untuk sebuah kaum. Kadang pula bertiup sebagai adzab atas sebagian kaum lainnya. Jika hal itu terjadi, maka tak ada tempat kembali selain kepada Allah Azza Wajalla saja. Lantaran Dialah yang mengutusnya, maka Dia pula yang kuasa untuk mengendalikannya. Jangan malah mengambil sikap yang berhaluan dengan perintah Islam, seperti dengan mengikat empat tiang penyangga utama rumah. Lantaran itu adalah keyakinan yang salah, yang justru malah akan mengundang petaka, bukan menangkalnya.

Ingat! Waspadalah! Waspadalah! Jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.

Terapi Rendam Garam dalam Tinjauan Islam

Garam yang sering digunakan dalam makanan biasa disebut garam dapur. Secara saintifiknya ia dikenali sebagai natrium klorida. Garam telah digunakan oleh manusia sejak dahulu lagi terutama untuk mengawet makanan. Oleh kerana sudah terbiasa dengan garam, makanan akan terasa hambar apabila terasa kurang asin.

Dalam haditsnya, Rasulullah pernah bersabda, “Bumbu yang paling pokok pada makanan atau lauk adalah garam.” (HR. Ibnu Majah).

Tubuh manusia sangat memerlukan garam karena ia mengandung natrium, yang berfungsi mengganti zat makanan lama dengan zat makanan baru. Kelancaran penukaran zat makanan bergantung kepada kadar natrium dalam darah yang beredar ke seluruh tubuh dengan menumpang pada sel darah merah. Bila kekurangan natrium, maka sel darah merah akan mengkerut. Tapi bila kelebihan natrium, maka sel darah akan mengembang sehingga bisa melukai pembuluh darah itu sendiri. Jadi kandungan natrium dalam darah haruslah seimbang.

Tubuh manusia hanya memerlukan sekitar dua gram atau setengan sendok teh garam dalam sehari. Apabila berlebihan, akan menyebabkan tekanan darah tinggi, mempercepatkan osteoporosis pada wanita, menimbulkan gangguan pada sel tubuh, bahkan dapat mematikan fungsi sel. Umumnya kita mengkonsumsi garam 5-6 gram sehari, lebih-lebih kalau kita makan lauk seperti telur asin atau ikan asin, maka kadar garam perlu dikurangi.

Garam sebagai obat

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menyitir sebuah riwayat yang berasal dari Abdullah bin Umar bin Khatthab, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan empat macam keberkahan dari langit ke bumi; besi, api, air dan garam.” (Kitab Thibbun Nabawi: 310).

Selanjutnya Imam Ibnul Qayyim menambahkan, “Garam sangat diperlukan tubuh manusia dan merupakan unsur utama dalam makanan. Banyak benda yang kita pakai memerlukan garam dalam perawatannya. Seperti emas dan perak. Garam mengandung zat yang bisa menjadikan emas semakin nampak warna kuningnya, dan perak semakin kinclong warna putihnya. Bisa juga untuk memutihkan gigi, menguatkan gusi, menetralisir bahaya racun, mencegah menjalarnya luka atau borok, serta banyak manfaat lainnya ” (Lihat Kitab Thibbun Nabawi: 310).

Seorang muslim yang dinobatkan dunia sebagai pakar dan pelopor ilmu kedokteran, Ibnu Sina, berkata, “Garam berfungsi untuk menetralisir racun yang ada akibat sengatan Kalajengking (binatang berbisa lainnya). Karena dalam garam ada zat yang bisa menyedot dan menetralisir racun. Racun akibat sengatan Kalajengking mengandung unsur panas. Maka dari itu Rasulullah memadukan antara air yang dingin dengan garam yang bisa meneralisir. Dan ini merupakan pelajaran bagi kita, bahwa pengobatan penyakit yang diakibatkan racun adalah dengan mendinginkan dan mentralisirnya.” (Kitab Faidhul Qadir: 5/ 270).

Obat Garam dalam Tinjauan Islam

Setelah kita mengetahui bahwa garam itu sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia, marilah kita membuka kembali referensi utama kita setelah al-Qur’an, yaitu as-Sunnah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah menganjurkan kita untuk menggabungkan antara pengobatan Ilahi dengan Alami yang telah disediakan Allah dimuka bumi ini. Misalnya, hadits berikut, “Hendaklah kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan al-Qur’an.” (HR. Hakim dan dishahihkannya).

Lalu bagaimana dengan garam? Benarkah Rasulullah pernah menjadikan garam sebagai obat? Berikut ini ada beberapa hadits yang menjelaskan hal itu. Ternyata Rasulullah pernah menjadikan garam sebagai obat ditambah bacaan ruqyah syar’iyyah. Beliau menggabungkan unsur Alamiyyah dengan unsur Ilahiyyah dalam mencari kesembuhan sakit yang pernah dialaminya.

Rasulullah mengusap dengan air garam

Bagaimana metode yang pernah dilakukan Rasulullah saat menjadikan garam sebagai media pengobatan? Riwayat berikut ini memberitahukan kepada kita bahwa beliau pernah melakukan beberapa cara dalam menerapi dirinya dengan memadukan antara garam dan ruqyah syar’iyyah. Pertama adalah mengusap luka dengan air garam seraya membaca bacaan ruqyah syar’iyyah.

عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ –رضي الله عنه- قَالَ: لَدَغَتِ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-عَقْرَبٌ وَهُوَ يُصَلِّيْ. فَلَمَّا فَرِغَ قَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلعَقْرَبَ، لاَ تَدَعُ مُصَلِّياً وَلاَ غَيْرَهُ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا، وَيَقْرَأُ: (قُلْ يَا أَيُّهاَ اْلكَافِرُوْنَ، وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ). (رواه الطبراني)

Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketika Rasulullah sedang shalat, beliau digigit Kalajengking. Setelah beliau selesai shalat, beliau bersabda, ‘Semoga Allah melaknat Kalajengking yang tidak membiarkan orang yang sedang shalat atau yang lainnya.’ Lalu beliau mengambil sewadah air dan garam. Kemudian beliau usap bagian anggota badan yang digigit Kalajengkin, seraya membaca surat al-Kafirun, al-Falaq dan an-Nas.” (HR. Thabrani dan dishahihkan Syekh al-Albani dalam Kitab as-Silsilah, no. 548. Imam al-Haitsami mengatakan: ‘Sanad haditsnya hasan (baik)’. Lihat Kitab Majma’uz Zawaid: 5/ 111).

Rasulullah mengguyur dengan air garam

Metode yang kedua adalah dengan mengguyur luka atau bagian tubuh yang sakit dengan air yang telah bercampur garam, seraya membaca bacaan ruqyah syar’iyyah. Sebagaimana yang disampaikan Imam al-Baihaqi dalam riwayat berikut.

عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ –رضي الله عنه- قَالَ: بَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ذَاتَ لَيْلَةٍ يُصَلِّيْ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى اْلأَرْضِ فَلَدَغَتْهُ عَقْرَبٌ. فَتَنَاوَلَهَا رَسُوْلُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- بِنَعْلِهِ فَقَتَلَتْهَا. فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلعَقْرَبَ مَا يَدَعُ مُصَلِّياً وَلاَ غَيْرَهُ، أَوْ نَبِيًّا وَ غَيْرَهُ. ثُمَّ دَعَا بِمِلْحٍ وَمَاءٍ فَجَعَلَهُ فِيْ إِنَاءٍ ثُمَّ جَعَلَ يَصُبُّهُ عَلَى إِصْبِعِهِ حَيْثُ لَدَغَتْهُ، وَيَمْسَحُهَا وَيُعَوِّذُهَا بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ. (رواه البيهقي)

Ali bin Abi Thalib berkata, “Pada suatu malam, ketika Rasulullah sedang shalat, saat beliau meletakkan tangannya di atas tanah (sedang sujud), ada kalajengking yang menggigitnya. Kemudian beliau mengambil sandal (terompahnya), lalu membunuhnya. Setelah selesai, beliau bersabda, ‘Semoga Allah melaknat Kalajengking yang tidak membiarkan orang yang sedang shalat atau yang lainnya, juga tidak pandang nabi atau lainnya.’ Lalu beliau mengambil sewadah air dan garam, dan mencampurkannya di wadah (baskom). Kemudian beliau mengguyurkannya ke tangan yang disengat Kalajengking, dan mengusapnya seraya membaca surat al-Falaq dan an-Nas.” (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah).

Rasulullah merendam dengan air garam

Metode yang terakhir yang pernah dilakukan Rasulullah dalam terapi garam adalah merendam bagian yang luka dalam larutan air garam seraya membaca bacaan ruqyah syar’iyyah. Cara ini diinformasikan oleh Imam al-Baihaqi juga dari riwayat shahabat Abdullah bin Mas’ud.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ –رضي الله عنه- قَالَ: بَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-يُصَلِّيْ إِذْ سَجَدَ، فَلَدَغَتْهُ عَقْرَبٌ فِيْ أَصْبُعِهِ، فَانْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَقَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلعَقْرَبَ مَا تَدَعُ نَبِيًّا وَلاَ غَيْرَهُ. قَالَ: ثُمَّ دَعَا بِإِنَاءٍ فِيْهِ مَاءٌ وَمِلْحٌ، فَجَعَلَ يَضَعَ مَوْضِعَ اللَّدَغَةِ فِيْ الْمَاءِ وَالْمِلْحِ، وَيَقْرَأُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حَتَّى سَكَنَتْ. (رواه البيهقي)

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika Rasulullah sedang sujud dalam shalatnya, jari beliau disengat Kalajengking. Setelah selesai shalat, beliau bersabda, ‘Semoga Allah melaknat Kalajengking yang tidak memandang nabi atau selainnya.’ Lalu beliau mengambil wadah (ember) yang berisi air dan garam. Kemudian beliau meletakkan bagian tangan yang tersengat Kalajengking dalam larutan air dan garam (merendamnya), seraya membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas, sampai beliau merasa tenang (rilek).” (HR. al-Baihaqi dan Imam al-Haitsami menyatakan bahwa sanad hadits tersebut hasan).

Berkaitan dengan riwayat tersebut, Imam Abdur Rauf al-Manawi berkata, “Dalam riwayat itu Rasulullah telah memadukan antara obat yang bersifat alami dengan obat yang bersifat Ilahi. Sedangkan surat Ikhlas yang beliau baca, mengandung kesempurnaan tauhid, dari sisi pengetahuan dan keyakinan. Adapun surat al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan al-Ikhlash) mengandung permohonan perlindungan dari segala hal yang tidak disukai, secara global dan terinci. Dan garam yang beliau gunakan, merupakan materi yang sangat bermanfaat untuk menetralisir racun.” (Kitab Faidhul Qodir: 5/ 270).

Subhanalloh wal Hamdulillah, segala puji bai Allah yang telah menyediakan segala sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan manusia. Dan Maha Suci Allah yan telah memberikan kesembuhan kepada hamba-hamba-Nya yang menderita sakit, dan berobat sesuai dengan apa yang dianjurkan rasul-Nya. Semua itu merupakan bukti kebesaran Allah, dan bagian dari kesempurnaan Islam dan kelengkapan metode pengobatan yang diajarkan Rasulullah sebagai dokter terbaik.

Maka dari itu, tidak ada alas an lagi bagi kita untuk meninggalkan sunnah Rasulullah, apalagi mencampakkannya. Lalu beralih ke cara perdukunan dan melibatkan kekuatan syetan. Karena cara pengobatan seperti itu telah diharamkan Islam. “Sesungguhnya Allah telah menciptakan penyakit dan juga obatnya. Maka berobatlah kalian, tapi jangan berobat dengan yang haram.” Begitulah Rasulullah menegaskan dalam hadits shahih riwayat Imam at-Thabrani.

Mujarabnya Pengobatan Ruqyah dan Garam

Selama ini kita telah mengenal terapi pengobatan dengan metode ruqyah syar’iyyah. Metode pengobatan yang sudah dilalaikan mayoritas kaum muslimin di dunia ini. Padahal semasa hidupnya, Rasulullah telah mencohtohkan metode ini kepada ummatnya. Saat ada keluarganya yang sakit, Rasulullah meruqyahnya dengan membacakan al-Mu’awwidzat (surat-surat perlindungan), sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

Begitu juga saat beliau sakit, beliau membaca ayat dan do’a ruqyah memohon kesembuhan kepada Allah. Terkadang malaikat Jibril sendiri datang kepadanya atas perintah Allah, lalu meruqyah Rasulullah yang sedang sakit. Dan saat beliau sakit keras di akhir tahun meninggalnya, beliau tidak kuat lagi untuk melakukan ruqyah mandiri, lalu Aisyah sang istri tercinta meruqyahnya dengan membaca al-Mu’awwidzat, seperti yang pernah diajarkan Rasulullah kepadanya.

Aisyah berkata, “Rasulullah, apabila salah seorang dari keluaranya sakit, maka beliau meniupnya dengan membaca al-Mu’awwidzat (surat-surat perlindungan). Dan ketika beliau sakit saat menjelang kematiannya, maka akulah yang meruqyahnya (meniupnya) dan aku usap beliau dengan tangan beliau sendiri, karena tangannya lebih besar keberkahannya daripada tanganku. (HR. Muslim).

Dari banyak hadits yang ada, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pengobatan ruqyah syar’iyyah adalah pengobatan ilahiyyah yang sangat tepat untuk kita pelajari dan kita praktikkan. Karena ternyata terapi ruqyah tidak hanya untuk penyakit non medis (terkena gangguan jin), tapi juga sangat cocok untuk terapi penyakit fisik, sebagaimana yang pernah Rasulullah praktikkan.

Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah terkadang memadukan pengobatan metode ruqyah dengan obat-obat yang sifatnya alami (herbal). Seperti habbah sauda’, madu, dan ramuan alami lainnya. Di antara obat alami yang pernah beliau gabungkan denan ruqyah syar’iyyah adalah garam.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketika Rasulullah sedang shalat, beliau digigit Kalajengking. Setelah beliau selesai shalat, beliau bersabda, ‘Semoga Allah melaknat Kalajengking yang tidak membiarkan orang yang sedang shalat atau yang lainnya.’ Lalu beliau mengambil sewadah air dan garam. Kemudian beliau usap bagian anggota badan yang digigit Kalajengkin, seraya membaca surat al-Kafirun, al-Falaq dan an-Nas.” (HR. Thabrani dan dishahihkan Syekh al-Albani dalam Kitab as-Silsilah, no. 548. Imam al-Haitsami mengatakan: ‘Sanad haditsnya hasan (baik)’. Lihat Kitab Majma’uz Zawaid: 5/ 111).

Hadits tersebut tidak hanya memberitahukan kepada kita bahwa Rasulullah telah menggabungkan garam sebagai materi alami dengan bacaan-bacaan ruqyah syar’iyyah yan bersumber dari Ilahi, tapi juga mengabarkan kepada kita bahwa terapi ruqyah tidak hanya untuk terapi gangguan jin, melainkan bisa juga untuk gangguan lainnya. Seperti sengatan Kalajengking yang dengan racunnya, orang yang digigit akan merasakan kesakitan yang sangat.

Kajian utama kita edisi ini akan membahas mujarabnya ruqyah sya’iyyah sebagai terapi pengobatan yang sifatnya Ilahiyyah dengan materi garam yang sifatnya Alamiyyah (produk alam yang telah disediakan Allah untuk kepentingan manusia). Selamat menyimak dan membuktikan.

رُوِيَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ -رضي الله عنهما-، أَنًَّ رَسُوْلَ اللهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ أَرْبَعَ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ: الْحَدِيْدَ وَالنَّارَ وَالْمَاءَ وَالْمِلْحَ.


KHASIAT GARAM HIMALAYA

Garam Himalaya dapat menyembuhkan beberapa macam penyakit di antaranya :

- Asma - Ginjal - Stroke
- Migrain - Anemia - Rematik
- Diabetes - Asam Urat - Darah Tinggi
- Penyakit Kulit - Sakit Saraf dan Sendi - Susah buang air besar
- Menyeimbangkan tekanan darah - Melancarkan arteri( saluran ) darah kita
- Menyelaraskan kelancran kinerja sistem saraf - dan penyakit lainnya.


Silahkan Ketik Judul Majalah Ghoib di Bawah ini

Memuat...